KEKASIH TERSEMBUNYI

“Allah menyembunyikan kekasih-Nya di antara manusia,” ujar Umar ibnu Al Khaththab, “sebagaimana Dia menyembunyikan Lailatul Qadr di antara malam-malam bulan Ramadhan.” Semua malam bulan Ramadhan memang istimewa. Tapi yang paling dahsyat adalah hadirnya yang rahasia, yang hanya dikenali dan tanda-tanda yang tak seorang pun mudah memastikannya.

Orang-orang yang menetapi kewajiban kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya sungguh istimewa, merekalah kekasih-Nya. Tapi kekasih Allah pun berderajat derajat tingkatannya. Dan termasuk tingkatan yang tertinggi di antara mereka, seperti kata Sayyidina ‘Umar, adalah yang tak mudah dikenali oleh mata manusia. Merekalah Atqiya’uI Akhfiya’, orang-orang yang bertakwa lagi tersembunyi. Mereka terkenal di langit meski diabaikan di bumi. Mereka dirindukan surga meski dikucilkan dunia.


lnilah catatan penting kita, bahwa orang-orang shalih yang menjadi kekasih Allah sama sekali bukanlah orang yang menonjolkan diri. Mungkin memang ada di antara mereka yang menonjol, tapi bukan sebab keinginan dirinya. Allah hanya hendak membebani mereka dengan ujian yang lebih berat berupa kemasyhuran.

Abu Hurairah ra menuturkan sabda Rasulullah saw tentang kekasih Allah yang tersembunyi, yang kedudukannya amat diidamkan para mulia yang di atas kita sebut namanya. “Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla mencintai hamba hamba yang diciptakanNya,” begitu kalimat Nabi saw dalam riwayat Muslim, “yang terpilih, yang suka menyembunyikan amal, yang bajik, yang kusut rambutnya, yang berdebu mukanya, dan yang kelaparan perutnya. Jika mereka meminta izin kepada Amir untuk menghadap, maka mereka tak diizinkan. Jika memberi anjuran, maka kata kata mereka tak dianggap. Jika melamar, maka mereka tidak dinikahkan. Jika tak hadir, maka mereka tak dicari, jika muncul, kedatangan mereka tak disambut. Jika sakit, mereka tidak dijenguk. Jika mati, mereka tidak dipersaksikan.”

Mahabijaksana Allah yang menyatakan bahwa makhluk yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Tetapi juga sekaligus mengabarkan melalui Rasul-Nya bahwa ketakwaan itu ada di dalam dada, tak dapat dilihat oleh mata manusia. la bermakna: teruslah berkhusyuk memperjuangkan takwa dalam diri, dan selalulah tawadhu’ kepada sesama hamba.

Sungguh kita tertuntut untuk tak meremehkan seorangpun di antara hamba Allah yang shalih, sebab boleh jadi mereka adalah para kekasihNya yang jauh lebih terkasih dibanding kita. Maka mari meniti jalan zuhud seperti yang diungkap cirinya oleh Hasan Al Bashri. “Sang zahid adalah,” kata beliau, “dia yang jika berjumpa orang lain selalu berkata pada dirinya: beliau lebih utama daripada aku”

Dengan meneladani jawaban salam Habibullah saw pada Rabb-nya pada saat: Mi’raj, kita menyebut orangorang shalih ¡tu di dalam doa tasyahud shalat kita, agar kita tergabung bersama mereka. “Assalamu ‘alama wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin... Salamsejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih.”

Sungguh Kita tertuntut untuk tak meremehkan seorangpun di antara hamba Allah yang shalih, sebab boleh jadi mereka adalah para kekasihNya yang jauh lebih terkasih dibanding kita.

Salim A.Fillah

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KEKASIH TERSEMBUNYI"

Posting Komentar